07: Senja Nanga Tumpu

Pegunungan itu berbaris menghadap ke teluk luas dan merupakan benteng alam Dompu. Pada jaman pendudukan Hindia Belanda, ribuan pekerja paksa, romusha bahasa Jepangnya, mengantarkan nyawanya untuk membuat jalan kecil yang memotong pegunungan ini. Dari atas tebing curamnya yang tinggi, laut lepas akan menyambut siapapun yang mendakinya. Nanga Tumpu, puncak ketujuh, puncak terakhir.

Rasa lelah tak terkira setelah terburu-buru mendaki puncaknya terbayar sudah.
Matahari tenggalam di ufuk barat nanga tumpu terlihat indah. Angin bertiup dan gerombolan burung camar terbang menuju sang surya yang masuk ke peraduannya.

Boe memasang bendera Indonesia disamping kertas berisi tanda tangan Ukang dan Seko pada sebuah pohon kecil, seolah mengatakan bahwa merekapun turut serta dalam perjalanan kami, kemudian mencium Sang Saka Merah Putih dengan khidmat.

Inilah akhir perjalanan kami. Inilah puncak terakhir kami. Tidak ada kata yang sanggup menyampaikan perasaan ini. Biarlah gambar ini yang mewakili…


<< | >>


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>