03: Sejengkal Dari Matahari

“Doro To’i itu unik!” Saya ingat, seorang kawan pernah mengatakannya ke saya.
Kami sempat istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan sehingga tiba disana hari mulai siang, suhu mulai panas seolah matahari sangat dekat dari kepala, dan memang benar. Doro To’i itu unik.

Rumah-rumah penduduk dibangun mengikuti alur lerengnya, sementara jalan kecil berkelok-kelok menuju puncak menghubungkan rumah yang satu dengan yang lain. Kalau anda pernah menonton sebuah film berjudul Shinobi: Heart Under Blade, keadaannya mirip dengan desa klan Kouga di film itu.

Moringa Oleifera banyak tumbuh di sepanjang jalan. Tumbuhan perdu yang sering dijadikan pengusir roh jahat dan orang kesurupan di tanah Jawa menjadi makanan sehari-hari penduduk sekitar. Sayur Parongge, sebutannya.

Kami juga sempat bertamu ke salah satu rumah penduduknya. Sederhana, adalah kesan utama yang bisa ditangkap. Satu keluarga besar hidup bersama dalam rumah yang terbuat dari kayu. Kebersamaan, mungkin itu alasan utamanya.

Dari atas puncaknya, di kejauhan terlihat jelas barisan pegunungan yang memisahkan Dompu dengan Bima. Jalur pendakian Campa yang menghubungkan Dompu dengan Bima terdapat di sana dan sejak dulu hingga kini masih merupakan akses tercepat menuju Bima walaupun pendakiannya masih menggunakan cara tradisional.

Kebanyakan penduduk di Doro To’i memelihara Equus Ferus Kaballus. Saya tertarik dengan salah satunya yang terlihat kurus dan baru dimandikan. Heran, saya bertanya kepada orang yang memandikannya, mengapa kuda tersebut demikian.
Rupanya, sang Kuda sempat terseret arus sungai beberapa minggu yang lalu dan dianggap hilang oleh pemiliknya, sampai akhirnya ditemukan… Hampir dua minggu kemudian!

Ia beruntung, tersangkut di rumpun bambu yang menjorok ke pinggiran sungai dan mungkin hanya bertahan hidup dengan minum air sungai tersebut dan makan sedikit rumput yang mampu dijangkau lehernya atau mungkin daun yang jatuh di dekatnya.
Kuda Sumbawa memang hebat!

Kami pun berpamitan dengan keduanya, ya, dengan sang Kuda juga, untuk menuju puncak berikutnya, dan dalam hati, saya menaruh hormat pada sang Kuda…


<< | >>


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>