Perjalanan dilanjutkan menuju puncak ke dua. Doro Bata. Banyak yang mengatakan, Doro Bata keramat. Syahdan, dulunya di tempat ini pernah berdiri sebuah istana dari kerajaan yang telah lampau dan kemudian terkubur oleh tanah. Pernah, tim arkeolog dari propinsi mengadakan penggalian di lokasi tersebut dan menemukan banyak batu bata yang tertata rapi. Sayang, penggalian tidak dilanjutkan karena, konon, banyak yang kesurupan.
Sampai di puncak Doro Bata yang dikelilingi oleh Pohon Kapas, sang mentari mulai terbit di ufuk timur, menyinari dua sosok “hewan amatir” dalam surat Boe, panggilan akrab Budiman yang berjalan di puncak Doro Bata yang datar dan luas.

Banyak batu bertebaran di puncak ini, dan juga karang gunung berukuran besar yang muncul dari permukaan tanahnya. Di salah satu dataran karang tersebut terdapat sumur kecil yang dikatakan keramat.

Satu hal yang menarik dan mungkin bebas dari mistis adalah, di puncak ini, kami menemukan banyak sekali Psilocybe Tampanensis, keluarga dari Basidiomycetes yang tumbuh liar. Spesies ini memang terkenal dengan efek halusinasi yang ditimbulkannya.

Apakah banyaknya Psilocybe Tampanensis ada hubungannya dengan keangkeran puncak ini? Kami tidak tahu.
Yang pasti, masih ada lima puncak lagi di depan kami…


